Inilah Enaknya Jadi Value Investor di Pasar Saham

Salam hangat untuk semua pengunjung setia Danforblog.com! Kali ini saya, Zulbiadi Latief, ingin ikut berbagi buat teman-teman value investor atau mungkin untuk calon investor yang baru menimbang-nimbang bagaimana enaknya jadi value investor di pasar saham.

Pada dasarnya, jika kamu sudah tau cara membeli saham bagi pemula maka dalam investasi saham dikenal dua macam aliran, yaitu value investing dan growth investing. Masing-masing keduanya punya cara tersendiri dalam menganalisa suatu saham. Untuk yang pertama, yakni value investing, dalam membeli saham analisa yang digunakan adalah anlisa fundamental, sedang dalam growth investing dasar analisa yang digunakan dalam berinvestasi saham adalah analisa teknikal.

Inilah Enaknya Jadi Value Investor di Pasar Saham
Inilah Enaknya Jadi Value Investor di Pasar Saham

Sebelum bicara banyak soal ini saya mau memberikan dulu ilmu dasar dalam memahami kedua tipe investasi saham tersebut. Coba perhatikan tabel singkat di bawah:

No Aliran Investornya Analisanya Objek Analisanya
1 Value Investing Value Investor Analisa Fundamental Laporan Keuangan Perusahaan dan fundamental lain yang bersifat eksternal, seperti kondisi makro dan global ekonomi dll. Dan dari data Lap. Keuangan kemudian dinilai harga wajar saham dan rasio-rasio finasial lainnya.
2 Growth Investing Growth Investor Analisa Teknikal Trendline grafik harga saham maupun pada indikasi candlestick yang terlihat.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa dalam value investing analisa yang dilakukan langsung mengacu pada sisi perusahaannya langsung, bukan dari faktor lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan saham itu sendiri. Jadi suatu hal yang wajar juga kalau kemudian antara analisa dan kondisi yang terjadi selanjutnya dengan harga sahamnya selalu sesuai korelasinya. Maksudnya, kalau belinya saham yang murah dan ditopang dengan fundamental perusahaannya yang cemerlang juga, maka cepat atau lambat sahamnya akan naik juga.

Sungguh perbedaan yang mencolok kalau analisa teknikal yang digunakan, dimana saham yang dibeli cenderung yang sudah mahal, asalkan grafiknya tampk uptrend dan kondisi pasar lagi bullish, padahal yang namanya grafik, lawannya naik adalah turun. Jadi jika hari ini naik maka tunggu saja beberapa hari, minggu, atau pun bulan kemudian pasti harganya akan turun juga. Dan inilah bahayanya menjadi growth investor.

Perkenalannya sudah, dan karena aliran penulis, termasuk pemilik blog ini, adalah sama-sama value investor, maka sekarang saya mau menyampaikan beberapa poin soal bagaimana enaknya menjadi seorang value investor, di ataranya:

(Bagi anda yang belum punya akun sama sekali di perusahaan sekuritas maka wajiba belajar dulu cara membeli saham bagi pemula yang sudah di bahas di blog saya.

  1. Tipe investasi yang sangat santai

Saya pribadi tidak akan berkata seperti ini kalau bukan karena sudah mengalaminya sendiri. Ya, bagi seorang value investor, setelah melakukan analisa mendalam pada saham tertentu dan kemudian memutuskan membeli saham tersebut, maka yang dilakukan selanjutnya adalah ‘tidak melakukan apa-apa’

Maksud dari ungkapan ‘tidak melakukan apa-apa’ adalah dalam sehari penuh setelah itu tidak ada lagi aktifitas yang dilakukan yang berhubungan dengan saham tersebut, dan itu artinya, baik akun maupun komputer yang kamu gunakan bertransaksi, sama sekali tidak diperhatikan lagi.

Dan jika seandainya kamu seorang karyawan maka setelah itu ya bekerja saja seperti biasa dan fokus dengan pekerjaanmu. Atau kalau misalnya kamu hobi baca buku alias kutu buku dan mengenal istilah yang sering digunakan orang barat ini: ‘Drop every thing and read!’ (Tinggalkan / abaikan segalanya dan (mulai) membaca!), maka seperti itu juga yang kamu lakukan setelah melakukan transaksi saham jika dasar analisisnya adalah value investing. Pokoknya baca dan baca lagi saja buku kesenanganmu. Jadi sesimpel itu kalau pilihannya seperti yang dilakukan om Warren Buffett.

Berbeda kalau aliran yang dipilih adalah growth investing, setelah menganalisa grafik pergerakan harga saham tertentu dan membelinya, maka si growth investor tersebut harus terus berjaga-jaga di depan komputer, dan kalau perlu matanya jangan sampai berkedip. Intinya, matanya harus melototin komputer seharian penuh. Kenapa seperti itu? Ya, karena saham yang dibeli bukan berdasarkan nilainya, apakah masih murah atau tidak dan apakah fundamentalnya bagus atau tidak, tapi berdasarkan analisa teknikal pada grafiknya saja.

Dari dua paragraf terakhir di atas Anda pasti sudah tau mana yang lebih menyenangkan kan? Belum lagi 3 alasan berikutnya.

Inilah Enaknya Jadi Value Investor di Pasar Saham

  1. Waktu lebih banyak untuk keluarga dan liburan

Menyambung poin pertama di atas, jadi karena belinya saham yang murah dan berfundamental bagus (apalagi kalau itu dari saham blue chip yang baru saja mengalami koreksi dan sudah mencapai level bottom-nya), maka setelah itu si value investor lakukan adalah melakukan aktifitas keseharian seperti biasa. Dan bagi pak Teguh Hidayat, katanya, lebih senang naik gunung bersama teman-temannya atau kalau lagi bosan juga, ya paling main game atau antar jemput anak ke sekolah.

Menurut hemat penulis sendiri, yang namanya invesatasi saham kan sebenarnya seseorang sudah berada di level tertinggi dalam strata pencari nafkah dan sudah seharusnya disebut ‘INVESTOR’. Nah, bila seperti itu, maka tidak sepantasnya kita berinvestasi saham seperti seorang yang berbisnis lagi dimana setiap waktu harus pusing dan stress memikirkan pergerakan harga saham.

Intinya, investasi saham itu harusnya dibawa santai saja. Lebih simpelnya lagi, lakukan klik sekali pas beli dan klik sekali juga pada saat menjual saham tersebut (atau kalau mislanya lagi melakukan average down maka plus 1 klik lagi). Jadi, tidak perlu klak-klik melulu melakukan swing trading, kalau itu sih yang kaya bukan Anda sebagai investor, tapi malah perusahaan sekuritas tempat anda berinvestasi.

Selain itu, kalau waktu kita tidak banyak terbuang di depan komputer, maka kita bisa bekerja lebih tenang yang tentunya hasil dari kerja tersebut bisa kita sisihkan lagi untuk diinvestasikan dengan membeli saham yang fundamentalnya bagus. Dengan kata lain, semakin banyak waktu untuk aktivitas lain selain trading maka akan semakin baik pula taraf kehidupan kita dan nilai investasi kita nantinya.

  1. Minim resiko

Sederhananya, lawannya naik adalah turun dan lawannya turun adalah naik. Dan faktanya, kebanyakan trader yang membeli saham berdasarkan analisa teknikal mulai masuk pada saham tersebut setelah harganya ‘terbang’ tinggi, ini artinya resiko kemungkinan harga saham tersebut akan berbalik turun sangat besar, apalagi kalau saham yang dipilih adalah saham gorengan yang gak jelas perusahaannya.

Bedanya kalau alirannya value investing dan beli saham berdasarkan analisa fundamental saham, umumnya si investor tersebut cenderung membeli saham yang sudah mengalami koreksi dan harga wajar sahamnya menunjukkan kalau saham tersebut lagi murah-murahnya, ditambah dengan fundamentalnya yang lagi bagus, maka cepat atau lambat harga saham tersebut akan naik. Ini artinya, bahwa berinvestasi dengan menggunakan analisa fundamental lebih cenderung akan untung ketimbang rugi karena ‘dalam jangka pendek harga saham cenderung mengikuti gejolak pasar dan dalam jangka panjang cenderung akan mengikuti fundamentalnya yang sebenarnya’.

Belum lagi nih, jika kamu menerapkan berbagai cara mengantisipasi kerugian dalam investasi sahama maka resikonya akan semakin kecil, di antaranya adalah dengan membagi dana investasi untuk beberapa sektor saham, sperti masing-masing 30% untuk saham property, tambang dan consumer dan 10% sisanya dibuat untuk jaga-jaga kalau IHSG mengalami koreksi.

Dan ada lagi manajemen resiko lainnya seperti berinvestasi di berbagai jenis instrument investasi seperti deposito, property, emas dan saham itu sendiri. Dengan begini, kalaupun indeks saham lagi jatuh anda akan tetap aman karena dana yang lainnya tetap bisa bertumbuh dan menghasilkan keuntungan yang berlipat.

Istilah seperti ini sering dibahasakan dengan ‘Jangan meletakkan semua telur dalam keranjang yang sama!’ maksudnya adalah bahwa dalam berinvestasi sebaiknya ada diversifikasi dimana dana tidak hanya ditempatkan di satu tempat, tapi dibagi-bagi ke dalam beberapa tempat sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Cara di atas tidak hanya dilakukan oleh investor pemula, bahkan semua level investor wajib melakukannya karena yang namanya harga saham, siapa pun dia tidak akan bisa memprediksinya, bisa saja hasil analisa mendalam yang telah dilakukan akan tetap salah dan mengalami kerugian, baik itu banyak maupun sedikit.

Inilah Enaknya Jadi Value Investor di Pasar Saham

  1. Untungnya bukan receh

Dalam prakteknya, umumnya trader teknikal akan mulai menjual sahamnya jika untungnya sudah mencapai minimal 3%. Adapun bagi trader fundamental, ia baru akan menjual saham yang ia miliki kalau valuasinya sudah tampak mahal. Dari perbedaan ini bisa kita katakan bahwa sebenarnya untung dari saham dengan mengandalkan analisa fundamental jauh lebih banyak karena tidak dibatasi oleh nilai persentase keuntungannya, tapi dari valuasi harga sahamnya. Dan itu artinya, walau harganya sudah naik 50% seklipun maka sahamnya masih bisa di-hold, selama saham itu masih murah dan tidak terjadi apa-apa dengan IHSG.

Atau begini saja, saya buat dalam pertanyaan; “Investor tipe apakah yang berhasil kaya raya dari saham dan bahkan pernah menjadi orang terkaya se-kolong langit?”

Jawabannya, sudah pasti dari value investor. Dia adalah Warren Buffett yang hingga saat ini masih menjadi legend dari penerapan aliran value investing.

Asala tau saja, Om WB ini memulai karirnya di pasar saham bukan dari modal gede, tapi hanya dengan modal $100, kalau kita nilai dengan jumlah uang sekarang maka anggaplah itu Rp10 Juta. Tapi, bukan nila 10 juta tersebut yang jadi perhatian banyak investor dunia sehingga mau berburu ilmu pada beliau, tapi kemampuannya dalam melipatgandakan asetnya hingga menjadi orang terkaya di Dunia.

Dan ada lagi satu investor kawakan juga yang terbukti berhasil menerapkan teknik analisa fundamental ini, yaitu Lo Kheng Hong. Beliau salah satu invetor yang saat ini disebut sebagai masternya velu investor Indonesia. Jadi kalau WB kelasnya dunia, pak LKH ini local, tapi untungnya juga gak main-main, hanya dari dana yang ia sisihkan saat masih bekerja di bank, hingga saat ini asetnya sudah mencapai triliunan.

Anda tentu juga bisa seperti beliau asal mau menjadi value investor juga tentunya. Tapi harus sabar kalau mau berhasil karena kuncinya hanya itu. Selai itu, kamu juga harus bisa menghapus sifat serakahmu karena ini juga yang membuat banyak investor pemula kabur dari dunia saham, ya apalagi kalau bukan karena rugi besar dari saham.

Sepertinya cukup ya, bila Anda merasa ada yang kurang dengan tulisan ‘Enaknya Jadi Value Investor di Pasar Saham’ ini silahkan berkomentar dan berbagi pengalaman bersama teman-teman value investor lainnya.


Penulis: Zulbiadi Latief
Hobi : Blogging dan Analisa Saham Syariah
Alamat : Semarang

Guest Post Danforblog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA, Maaf ini untuk menghindari SPAM Robot...! *