Perbedaan Antara LAMP dan LEMP Dalam Intalasi Web Server

Perbedaan Antara LAMP dan LEMP Dalam Intalasi Web Server
Perbedaan Antara LAMP dan LEMP Dalam Intalasi Web Server

Server Web adalah program yang menggunakan HTTP (Hypertext Transfer Protocol) untuk melayani file yang membentuk Laman Web (web Page) kepada pengguna (User), sebagai tanggapan atas permintaan mereka, yang diteruskan oleh klien HTTP komputer mereka. Semua komputer harus memiliki Operating System seperti Windows Server, Linux, dll. Dan untuk menjalankan server Web. Komputer harus memiliki Konfigurasi (Stack) pendukung, Dalam hal ini termasuk Apache (server Web yang paling banyak diinstal), Microsoft Internet Information Server (IIS) dan nginx (engine X) dari NGNIX, dls. Juga Program pelayan Database dan penerjemah script untuk menjadikannya sebagai sebuah laman.

Saat ini Stack/Konfigurasi web server yang populer adalah LAMP dan LEMP, dan untuk mengetahui Perbedaan Antara LAMP dan LEMP Dalam Intalasi Web Server, silahkan simak penjelasan berikut.


1. L.A.M.P

LAMP
L.A.M.P (Linux – Apache – MySql – PHP)

LAMP adalah akronim Dari Konfigurasi Program untuk layanan web server, yang terdiri dari komponen-komponen:

  • Linux (Operating System Utama – Spt. Debian, Ubuntu, CentOS, dll),
  • Apache (Web server),
  • MySQL (Database – bisa juga dari akronim mariaDB)
  • PHP (Bahasa Pemrograman)

Ini adalah kombinasi yang sangat populer dan telah ada selama beberapa waktu.

Apache telah lama menjadi aplikasi server web paling populer di Internet publik. Bahkan, menurut Wikipedia, Apache terkenal karena memainkan peran kunci dalam pertumbuhan awal World Wide Web. Aplikasi ini awalnya didasarkan pada server HTTPSA NCSA, dan sejak pekerjaan pada kode NCSA dihentikan pada awal 1995, pengembangan Apache dimulai dan dengan cepat menyusul NCSA httpd sebagai server web dominan, dan tetap menjadi server HTTP paling populer di gunakan sejak April 1996 sampai sekarang.

2. L.E.M.P

LEMP
L.E.M.P (Linux – Engine-x/nginx – MySql – PHP)

Apa itu LEMP? Ini kumpulan komponen web server yang hampir sama dengan LAMP, kecuali pada komponen Apache diganti oleh nginx, singkatan dari “engine-x“, yang menjelaskan E pada “LEMP”, sehingga komposisinya menjadi seperti :

  • Linux (Operating System Utama – Spt. Debian, Ubuntu, CentOS, dll),
  • Engine-x (Web server) sering disebut dengan NGINX,
  • MySQL (Database – bisa juga dari akronim mariaDB)
  • PHP (Bahasa Pemrograman)

NGINX adalah aplikasi proxy HTTP dengan pangsa yang lebih kecil dibandingkan dengan Apache, namun sangat diminati oleh para blogger karena kecepatannya, dan memungkinkan untuk menangani permintaan HTTP yang lebih tinggi. Menurut Wikipedia, nginx menggunakan pendekatan event-driven asynchronous untuk menangani permintaan, dibandingkan dengan pendekatan berorientasi ulir atau berorientasi proses seperti pada Apache, dan arsitektur modular-driven dapat memberikan kinerja yang lebih mudah diprediksi pada beban tinggi.

Nginx vs Apache, mana yang lebih baik?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana dalam perbandingan kedua STACK yang saat ini cukup banyak bertaburan di internet, namun kita coba meringkas dalam poin tentang keuntungan dan kerugian menggunakan Apache dan nginx.

Apache:

  • Telah tersedia selama bertahun-tahun (sejak 1995), banyak pengguna dan banyak tersedia modul tambahan (kebanyakan open-source) yang dibuat untuk memperluas fungsinya;
  • Pendekatan Apache adalah berorientasi proses  – sehingga sangat bisa melambat karena beban berat, perlu memunculkan proses baru dan mengonsumsi lebih banyak RAM, juga menciptakan utas/beban baru yang tentunya menggerus sumber daya CPU dan RAM;
  • Batas harus ditetapkan untuk memastikan bahwa sumber daya tidak kelebihan beban, ketika batas tercapai, koneksi atau permintaan (page request) tambahan akan ditolak/gagal;
  • Memori menjadi Faktor pembatas dalam Apache, sehingga berpotensi membuat CPU semakin lambat saat permintaan lain terjadi.

nginx:

  • Aplikasi server web open source yang ditulis untuk mengatasi masalah kinerja dan skalabilitas yang terkait dengan Apache;
  • Pendekatan yang digerakkan oleh aksi, asinkron, dan non-pemblokiran, sehingga tidak membuat proses baru untuk setiap permintaan web;
  • Mengatur jumlah proses pekerja, dan setiap pekerja dapat menangani ribuan koneksi bersamaan;
  • Modul disertakan pada waktu kompilasi, memiliki kompiler kode PHP internal (tidak perlu untuk modul PHP)

Sebagai kesimpulan; nginx lebih cepat dan mampu menangani beban yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Apache, pada kombinasi perangkat keras yang sama. Namun, Apache masih jauh lebih baik dalam hal fungsionalitas dan ketersediaan modul yang diperlukan untuk bekerja dengan server aplikasi back-end dan untuk menjalankan bahasa scripting. Jadi, semua tergantung pada apa yang ingin Anda jalankan di server web Anda. Sebenarnya saat ini sudah dimungkinkan untuk menjalankan Apache dan nginx di server yang sama, sehingga Anda dapat memiliki yang terbaik dari kedua Stack ini. Misalnya, Anda dapat menjalankan nginx sebagai proxy terbalik ketika Apache berjalan di back-end.


Demikian secara ringkas penjelasan mengenai Perbedaan Antara LAMP dan LEMP Dalam Intalasi Web Server, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA, Maaf ini untuk menghindari SPAM Robot...! *